<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:: Cybermogi on BlogMood 3 :: &#187; Hati</title>
	<atom:link href="http://blog.cybermogi.com/tag/hati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.cybermogi.com</link>
	<description>Long time no &#039;see&#039;</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 04:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>:: Jangan Berhenti di tengah Badai::</title>
		<link>http://blog.cybermogi.com/2011/05/jangan-berhenti-di-tengah-badai/</link>
		<comments>http://blog.cybermogi.com/2011/05/jangan-berhenti-di-tengah-badai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 13:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[About me]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Esensi]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.cybermogi.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, seperti biasanya kami sekeluarga berkendaraan menuju ke suatu tempat, dan aku mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti. &#8220;Bagaimana Ayah? Kita berhenti?&#8221;, &#8230; <a href="http://blog.cybermogi.com/2011/05/jangan-berhenti-di-tengah-badai/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari, seperti biasanya kami sekeluarga berkendaraan menuju ke suatu tempat, dan aku mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.</p>
<p>&#8220;Bagaimana Ayah? Kita berhenti?&#8221;, aku bertanya.<span id="more-510"></span><br />
&#8220;Teruslah mengemudi!&#8221;, kata Ayah.<br />
Aku tetap menjalankan mobilku.<br />
Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujan pun turun disertai beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.</p>
<p>&#8220;Ayah&#8230;?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Teruslah mengemudi!&#8221;, kata Ayah sambil terus melihat ke depan.<br />
Aku tetap mengemudi dengan bersusah payah.<br />
Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.<br />
Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku.<br />
Aku mulai takut. Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.</p>
<p>Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah kami pada daerah yang kering dan kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.</p>
<p>&#8220;Silahkan kalau mau berhenti dan keluarlah&#8221;, kata Ayah tiba-tiba.<br />
&#8220;Kenapa sekarang?&#8221;, tanyaku heran.<br />
&#8220;Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai&#8221;.</p>
<p>Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yang terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat. Dan aku mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.</p>
<p>Jika kita sedang menghadapi &#8220;badai&#8221; kehidupan, teruslah berjalan, jangan berhenti, jangan putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yg terus kacau, menakutkan dan penuh ketidakpastian.</p>
<p>Lakukan saja apa yang dapat kita lakukan dan yakinkan diri bahwa badai pasti berlalu.<br />
Jadikanlah kebiasaan yg positif untuk tidak menyerah hari ini, esok dan seterusnya.</p>
<p>You won&#8217;t find it here, look another way. You won&#8217;t find it today, look another day. </p>
<p>http://blog.cybermogi.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.cybermogi.com/2011/05/jangan-berhenti-di-tengah-badai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>:: Mengenal Tuhan&#8230; sebelum kita menemukan Tuhan ::</title>
		<link>http://blog.cybermogi.com/2009/02/mengenal-tuhan-sebelum-kita-menemukan-tuhan/</link>
		<comments>http://blog.cybermogi.com/2009/02/mengenal-tuhan-sebelum-kita-menemukan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 00:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arimogi</dc:creator>
				<category><![CDATA[About me]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Einstein]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.cybermogi.net/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah Tuhan? tidak perlu dijawab, tapi yang pasti semua mengenal-Nya kan? yah, sebelum kita menemukan Tuhan, kita perlu mengenalnya terlebih dahulu, tapi seberapa kenal kita dengan Tuhan? 5cm? 1kg? 10 hari? 17 kandela? 5 mach? tidak perlu banyak ukuran dimensi &#8230; <a href="http://blog.cybermogi.com/2009/02/mengenal-tuhan-sebelum-kita-menemukan-tuhan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah Tuhan? tidak perlu dijawab, tapi yang pasti semua mengenal-Nya kan? yah, sebelum kita menemukan Tuhan, kita perlu mengenalnya terlebih dahulu, tapi seberapa kenal kita dengan Tuhan? 5cm? 1kg? 10 hari? 17 kandela? 5 mach? tidak perlu banyak ukuran dimensi yang kita gunakan, cukup dengan 1 hati saja, maka kita dapat mengenal Tuhan.</p>
<p><span id="more-171"></span> Bagi yang pernah membaca <a href="http://blog.cybermogi.net/2008/10/tantangan-yang-bernama-hidup/">blog saya sebelumnya</a>, mungkin pernah tahu kalau saya pernah berbuat bodoh. itu semua karena saya tidak mengenal Tuhan secara baik waktu itu, saya hanya sekedar tahu Tuhan dan merasa mengenal-Nya, namun masih sebatas pengukuran-pengukuran saja.</p>
<p>Selepas dari perbuatan itu, saya banyak belajar, terutama dari para sahabat dan saudara-saudara saya, yang telah lebih dulu mengenal Tuhan, (terima kasih mas Bee, Panie, Lonely, Fitrie, Pur, dan semua yang telah membantu saya waktu itu, yang sudah menemaniku sampe detik ini walaupun kita terpisah sementara ini); saya belajar bahwa Tuhan selalu berada di dekat kita, di sekeliling kita, dan terutama di dalam hati kita. Pernah suatu ketika seorang sahabat menceritakan,</p>
<p>Tuhan ingin menguji para manusia ciptaan-Nya, maka Dia mengumpulkan para malaikat, Beliau bertanya, &#8220;Aku ingin menguji manusia, dimanakah Aku harus bersembunyi agar manusia tidak dapat menemukanku?&#8221;.<br />
Malaikat termuda menjawab, &#8220;di dasar lautan&#8221;.<br />
Malaikat lain menyahut, &#8220;di puncak gunung tertinggi&#8221;.<br />
&#8220;di dalam hutan&#8221;, sahut malaikat yang lain.<br />
Akhirnya, malaikat yang paling tua yang juga malaikat paling bijaksana menjawab &#8220;di dalam hati manusia&#8221;<br />
Tuhan bertanya, &#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Karena itu adalah tempat yang tidak pernah dilihat oleh manusia dan tempat yang paling jarang mereka kunjungi.&#8221;</p>
<p>Ya, memang kita sebagai manusia terkadang sangat jarang mengunjungi hati kita sendiri, bagi kita, hati adalah sebuah tempat kecil yang tidak dimuati apapun, namun, di hatilah kita dapat menemukan jawaban semua persoalan hidup yang kita hadapi. Dan dengan hati pula kita dapat mengenal Tuhan dengan lebih baik. Kenalilah Tuhan dengan hati, Beliau memang tidak dapat kita lihat, seperti udara ini, tidak dapat kita sentuh, tidak dapat kita kecap, tapi dapat kita rasakan, hati memang bukan panca indera, namun dapat kita gunakan untuk merasakan kehadiran Beliau, betapa dekatnya kita dengan Beliau.</p>
<p>Kemudian seorang sahabat pernah bertanya, &#8220;kalau kita sangat dekat dengan Beliau, kenapa kita diberikan penderitaan, diberikan penyakit, dan diberikan kesengsaraan?&#8221;. Ya, memang kita tahu segala sesuatu berasal dari-Nya, dan akan kembali pada-Nya, namun pernahkah kita berpikir, bahwasanya penyakit, penderitaan dan kesengsaraan itu berasal dari mana? mungkin pernah kita menyimak cerita ini,</p>
<p>Tersebutlah di sebuah sekolah dasar, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam sedang mengajar murid-muridnya. Guru tersebut juga mengajar tentang Agama, dan menyatakan kepada murid-muridnya, &#8220;Semua yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan, termasuk penyakit dan kesengsaraan&#8221;.<br />
Kemudian seorang murid bertanya, &#8220;Pak, apakah cahaya itu ada?&#8221;<br />
Guru tersebut menjawab, &#8220;jelas ada, kalau tidak bagaimana kita bisa melihat&#8221;<br />
Murid tersebut bertanya kembali, &#8220;Pak, apakah panas itu ada?&#8221;<br />
Guru tersebut menjawab dengan cepat, &#8220;Jelas ada, panas itu adalah energi dan tidak bisa dimusnahkan.&#8221;, guru tersebut tersenyum bangga karena dapat menjawab dengan tepat.<br />
Kemudian murid tersebut kembali berkata, &#8220;kalau begitu, kenapa kita mengenal gelap dan dingin? gelap adalah keadaan dimana tidak terdapat cahaya yang melewati, dan dingin adalah keadaan dimana tidak terdapat panas. Sama halnya dengan penyakit dan kesengsaraan, itu hanyalah keadaan dimana kita tidak merasakan Tuhan dalam hati kita.&#8221;<br />
Dan semua orang tahu murid itu adalah Albert Einstein, jenius yang pernah ada di dunia. (cerita ini diadaptasi dari berbagai sumber dan diceritakan kembali).</p>
<p>Memang benar yang dikatakan tersebut, jadi semua penderitaan yang kita rasakan, penyakit yang kita alami, kesengsaraan yang terjadi bukanlah benar-benar berasal dari Tuhan, namun sebenarnya berasal dari kita sendiri, kitalah yang menyebabkan semua yang kita rasakan, jika kita tidak merasakan dengan hati bahwa Tuhan hadir di sekitar kita, maka kita akan merasakan penderitaan, seringkali kita lupa akan Tuhan jika kita berada dalam keadaan senang, dan &#8216;kelupaan&#8217; kita ini juga yang membuat kita merasakan penderitaan. Jadi penderitaan, penyakit dan kesengsaraan adalah cara alami untuk mengingatkan kita akan kehadiran-Nya di setiap saat, mengingatkan kembali kita untuk merasakan-Nya, mengingatkan kembali bahwa kita masih memiliki hati untuk dapat merasakan-Nya.</p>
<p>Pendekatan matematis yang dapat kita lakukan untuk hal ini adalah membagi hidup ini dalam sebuah diagram kartesius dua area, yaitu positif dan negatif, atas dan bawah, atau tinggi dan rendah. Jika x adalah titik dimana kita merasakan panas, maka nilainya adalah positif, atas atau tinggi. Namun, jika kita merasakan dingin, maka itu adalah keadaan x dengan nilai yang negatif, bawah atau rendah. Sama halnya dengan hati kita, jika hati kita merasakan kehadiran-Nya, maka nilainya akan positif, atas atau tinggi, ini yang membuat kita merasakan keindahan hidup, namun jangan sampai kita lengah dan terlena, kita harus tetap mengingat Beliau, untuk menjaga nilai x berada tetap di atas.</p>
<p>[Posted in : <a href="http://sahabathati.co.nr">http://sahabathati.co.nr</a> atau <a href="http://sahabathati.wordpress.com">http://sahabathati.wordpress.com</a>]<br />
[also posted in http://cybermogi.net]<br />
[taken from : various resource book and articles on internet]<br />
[my room]<br />
[at 08.00am - Feb. 4th, 2009] </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.cybermogi.com/2009/02/mengenal-tuhan-sebelum-kita-menemukan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

